Skip to main content

Krisis Ekonomi



Tulisan Dahlan Iskan ini seperti meringkas karya literatur Romeo and Juliet-nya Shakespeare dengan sekian ratus halaman dan nuance, intrik, romance, tragedi dsb menjadi hanya “Konon ada sepasang anak manusia yang saling mencintai namun tidak direstui oleh keluarga masing-masing. Mereka memilih backstreet dan akhirnya keduanya menemui ajalnya”….







Krisis Subprime di Amerika Serikat



Kalau Langit Masih Kurang Tinggi



Oleh: Dahlan Iskan



Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga,banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter.



Saya coba:



Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus  berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.



Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.



Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.



Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik?



Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.



Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.



Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara  kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak,  hukum perburuhan, dan seterusnya.



Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu  merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?



Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.



Mengapa?



Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.



Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?



Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru..



Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain.



Kalau tidak boleh diambil ? Beli ! Kalau tidak dijual?



Beli dengan cara yang licik dan kasar!  Istilah populernya hostile take over.



Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.



Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.



Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.



Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.



Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.



Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja.



Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia :  USD 2 triliun!



Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.



Tapi, itu belum cukup.



Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!



Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.



Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya..



Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?



Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar?  Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?



Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar?



Bagaimana  bank bisa lebih  besar ?



Bagaimana notaris bisa lebih besar?



Bagaimana  perusahaan penjual kloset bisa lebih besar ?



Padahal, doktrinnya, semua  perusahaan  harus semakin besar?



Ada jalan baru.



Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru! itu.



Pada 1980. pemerintah bikin keputusan yang disebut



''Deregulasi Kontrol Moneter''.



Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti.



Peraturan baru itu berlaku  dua tahun kemudian.



Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.



Begini ceritanya:



Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR,meski tidak sama).



Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.



Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.



Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait. Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.



Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya:



pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.



Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.



Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.



Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990.. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun! .



Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.



Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah.



Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.



Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.



Lalu, apa hubungannya dg bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?



Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.



Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah.



Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.



Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung.



Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.



Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.



Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.



Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking.



Apakah investment banking itu bank?



Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:



menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan !



Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.



Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya



kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:



kepada bank lain atau kepada sesama investment banking.



Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ''personal banking''.



Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.



Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.



Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.



Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.



Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.



Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600.



Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.



Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.



Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai



pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.



Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.



Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk.



Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.



Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.



Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?



Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.



Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan  rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' -kan uangnya di lembaga-lembagainvestment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.



Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.



Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana.

Comments

  1. komprehensif dan gampang dicerna... hebat hebat :up: :up: :up: :up: :up:

    ReplyDelete
  2. gw akhrnya ngerti korelasi antara rmh2 yg gak terjual dg krisis keuangan di AS hehe..... :up: :up: :up:

    ReplyDelete
  3. gela hebat bisa kepikir sampe begini.
    btw g lagi cari artikel, yang bisa membuka mata para CEO ttg pentingnya acct, it, hrd, pokoknya yg bukan marketing. sebagian besar g melihat marketing mendapat nilai "terima kasih" yang sangat jomplang di banding bagian lain. cth(nama perushaan di rahasiakan), tiap tahun ada perhitungan bonus atas prestasi kerja.lucunya yg selalu juara selalu marketing karena embel emebel tembus target. alhasil para marketing (40 orang, tahun 2007) mendapatkan jalan jalan ke thailand. sedangakan divisi lain hanya tersenyum bangga, tapi hati menjerit. bertahun tahun bekerja tidak pernah mendapat liburan dari perusahaan walaupun domestik.kalau pun mau pake duit sendiri. so ... apa kah tidak ada prestasi kerja selain divisi marketing ? so boleh minta pendapat dari para CEO ? g sedih akan hal ini, posisi keuangan di catat oelh siapa? bisa tahu hutang ? nagih2 kayak pengemis(g biasa sindirin marketing dengan bahasa yg maaf : orang lain yang berak, kita yang cebokin). malah terkadangan marketing ngejar ngejar bagian AR supaya ikut membantu menagih spy hutangnya lunas karena setelah lunas marketing dapet bonus.sedangkan AR dapat ???

    ReplyDelete
  4. Ya itulah kesalahan interprestasi perusahaan2 gede. Payah lah. Padahal yang bener itu semua adalah pekerjaan teamwork. Konsumen yang di dapat dari marketing paling top itu baru 50% pekerjaan, sisanya kan pihak2 lain yang kerja. payah memang... :down: :down: :down:

    ReplyDelete
  5. Guys kurs DoLLar dan nembus 10.000, info
    http://www.bankmandiri.co.id/resource/kurs.asp

    Wah bakal naik trs ga neh :roll:

    ReplyDelete
  6. iya euy.. gilaaaaaaaa.... :cry: :cry: :cry: :cry: :cry: :cry: :cry: :cry: :cry: :cry:

    ReplyDelete
  7. iya, sama, di kantorku yg dulu & skrg yg paling dihargai adalah bgn penjualan, apalagi kl bgn penjualan nya bisa dapetin klien/project2 gede. sementara bgn fin/acc hny dipandang sbg bgn yg byk mengeluarkan uang, pdhl yg dibyr kan pengeluaran kantor jg :(

    ReplyDelete
  8. marketing itu mmg ujung tombak sih, jadi orang cuman bisa liat ujungnya doank, kalau pegangannya kurang dilihat.. padahal kalo ujung doank gak ada pengangan juga mana bisa maju.. hmmm.. :(

    ReplyDelete
  9. eh btw, artikelnya bagus, bener gw sekarang rada2 tahu lah dikit2 kayak si yinni.. heuehe.. :up: :up: :up:

    ReplyDelete
  10. gile panjang bgt seh artikelnya
    wkt kmrn kerja kan ak pernah pindah 2 kali...jadi pernah ada di 3 departemen yang berbeda nah pas terakhir tuh di pindahin ke marketing..emang seh marketing itu paling di sayang..trus paling dapet fasilitas yang ok..klo di departemen lain mah fasilitasnya bener2 minim hahahha

    ReplyDelete
  11. waakakak betul.. klo u/ melon dengan tampang dan body oke lebih gampang 'menjerat' customer, makanya jangan heran marketing umumnya cewek, kecuali marketing teknis.. wakaka..

    terus bos juga kan cuci mata terus liat marketing yg cantik2... belon lagi 'cuci' yg laen.. :oops:

    ReplyDelete
  12. wah koko maen FISIK neh :roll: :roll:

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ahli / Tukang Urut di Bandung

Bagi yang pernah kecelakaan, keseleo, tulang keluar dari persendian, patah tulang, dan masalah-masalah lain dengan tulang dan otot, ahli urut atau tukang urut adalah seseorang yang kita andalkan untuk pengobatan alternatif diluar kedokteran. Persepsi masyarakat mengenai lembaga rumah sakit dan kedokteran masih terdapat kebimbangan walau sudah lebih lebih baik dibanding 10 tahun lalu. Masih ada pemikiran dokter + rumah sakit lebih mementingkan test-test yang berlebihan untuk pasien. Disinilah celah yang diisi oleh ahli urut. Ahli urut berperan sebagai seorang dokter dan ahli terapi. Perlu diperhatikan, menurut saya, sebaiknya tetap ke dokter dulu, x-ray kalau memang diperlukan. Apabila tulang retak atau patah, sebaiknya kunjungan ke ahli urut ditunda dulu. Berikut daftar Ahli urut yang berhasil dihimpun berkat teman2 di facebook...

German Olympic Women Athletes Pose for Playboy

Source: www.GutterUncensored.com German Olympic female stars have posed nude for the cover of Playboy, threatening to overshadow their team’s efforts at the Beijing Games. Four female athletes representing Germany in the 2008 Beijing Olympics took their clothes off for Playboy . As I have said before, the Beijing Olympics should be called the Sex Olympics with a full boob slip nipple slips of during a Water Polo game and with a leaked nude sex scandal pictures of Laure Manaudou , a French Olympic gold medalist swimmer. Screw the gold and show more pink is my advice to these German babes. See All Their Naked Photos Below But this is the first time ever four Athletes have stripped off their clothes in Playboy for 4 separate covers. The athletes are, in order of appearance below, Romy Tarangul (Judo), Petra Niemann (sailing), Katharina Sholz (field hockey), and Nicole Reinhardt (Kayak). The topless photos of these German Olympians have appeared on four alternative front covers ...

ExoticAzza : Virly

Find out the differences between NonaManis.com, MoreNonaManis.com, ExoticAzza.com and IndoAmateurs.com - read our FAQ or go to  NonaManis.com . Your email program/account might have a spam filter which mistakenly marks our emails as spam. Please make sure to add admin@exoticazza.com, admin@indoamateurs.com and admin@morenonamanis.com to your safe senders list. WARNING: ADULT MATERIALS FOR CONSENTING ADULTS OVER 21 YEARS OF AGE